Kerudung Gaul Melecehkan Islam
Bagi mereka yang merasa harus tampil modis dan trendi, tren kerudung gaul jadi semacam bentuk penyaluran dari seleranya. Maksudnya ingin mengenakan simbol islami, tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang ‘in’ saat ini. Akibatnya, dalam masalah kerudung saja mesti ada aturan main yang dibuatnya sendiri.
Jilbab bermakna milhâfah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.
Ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahhâh, al-Jawhârî menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ’ah (baju kurung). Mudah-mudahan setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika membedakan antara jilbab dan kerudung. Yang dimaksud pakaian muslimah dan sesuai syariat Islam, adalah jilbab plus kerudungnya.
Busana, menurut Kefgen dan Touchie-Specht, mempunyai fungsi: diferensiasi perilaku dan emosi. Dengan busana, membedakan diri (dan kelompoknya) dari orang, kelompok, atau golongan lain. Kalo ada orang yang pake tanda “salib”, kamu udah langsung bisa nebak, kalo orang tersebut agamanya Nasrani. Begitu juga ketika kamu ngelihat di televisi ada orang yang pake topi yarmelke, kamu bisa langsung menyimpulkan kalo orang itu adalah Yahudi. Begitupun ketika kamu menyaksikan ada orang yang pake baju koko, sarung, berpeci, dan masuk mesjid, segera saja kamu menyimpulkan kalo orang itu adalah muslim. Paling nggak ini sebagai identifikasi awal. Dan tentunya simbol-simbol itu sudah disepakati bersama.
Busana muslimah, jilbab, adalah juga simbol identitas. Simbol pembeda antara yang benar dan salah. Memakai busana muslimah sekaligus merupakan simbol mental baja pemakainya. Gimana nggak, dalam kondisi masyarakat yang rusak binti amburadul ini masih ada orang yang berani tampil dan bangga dengan jilbab. Maklum saja, jaman sekarang ini jaman amburadul, utamanya kaum wanita dalam soal busana.
simprug said,
October 27, 2007 at 3:11 pm
selv, ada gambar/fotonya gak? gw mau ngeliat kerudung gaul
ade_tenk said,
December 29, 2007 at 2:15 pm
SEBENARNYA BANYAK ANAK WANITA YANG MASIH BELUM MENGERTI PENTINGNYA AGAMA DAN PADA JAMAN SEKARANG AGAMA HANYA SEBAGAI SIMBOL ATAU STATUS KEBERADAAN ATAU SEBAGAI IDENTITAS BAHWA SAYA BERAGAMA, OLEH KARENA ITU JELBAB BANYAK TIDAK DIPANDANG KARENA ORANG YANG BERJELAB BAHWA DIA SUDAH INSYAF…..DAN BANYAK DOKTRIN2 BAHWA JELBAB MENGGANGU AKTIFITAS WANITA UNTUK KEMAJUAN DIRINYA SENDIRI DAN BAGI YANG BERJELABAB POSISINYA DIBAWAH LAKI2, DAN PERHATIAN PEMIMPIN BAGI INDONESIA SENDIRI TIDAK PERNAH DIPERHATIKAN JADI WAJAR APABILA WANITA JAMAN EKARANG TIDAK ADA MAU PAKAI JELBAB DAN MENGGUNKAN KERUDUNG GAUL HANYA SEBAGAI TREND ATAUI MODE
RYANTI said,
February 4, 2008 at 1:56 pm
ya, saya setuju.
puput said,
March 14, 2008 at 4:48 am
saya setuju dengan artikel ini. Semoga ukhti selalu in untuk mengkritisi mereka-mereka yang menyamakan antara definisi jilbab dan kerudung.
Allahu Akbar!
Pondok Pesantren Darunnajah-Cipining said,
March 29, 2008 at 1:29 am
Wah tulisan kakak menggugah sekali! Insya Allah banyak manfaatnya buat kita umat Islam. Oya kak minta tolong nampil di ‘Blogroll’ kakak boleh ya? Ini alamat pesantren kami kak http://www.darunnajah-cipining.com/ Mampir ya kak? Silaturahmi gitu.. Sekaligus nostalgia hehe.. Syukran kaa!